Monday, March 25, 2013

Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh

Sedikit sejarah tentang Masjid Raya Baiturrahman.


Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, merupakan masjid yang memiliki lembaran sejarah tersendiri yang kini merupakan Masjid Negara yang berada di jantung Kota Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Nama Masjid Raya Baiturrahman ini berasal dari nama Masjid Raya yang di bangun oleh Sultan Iskandar Muda pada tahun 1022 H/1612 M. Riwayat lain menyebutkan bahwa yang mendirikan Masjid Raya Baiturrahman di zaman kerajaan Aceh ialah Sultan Alidin Mahmudsyah pada tahun 1292 M.



Masjid Raya Baiturrahman satu kubah (tempo dulu).

Masjid Raya ini telah terbakar habis akibat penyerangan tentara Belanda dalam ekspedisinya kedua pada tahun Shafar 1290 H bersamaan dengan april 1873 M. Dimana dalam peristiwa tersebut tewas Mayjen Khohler dan kemudian diabadikan tempat tertembaknya pada sebuah monumen kecil dibawah pohon ketapang/geulumpang dekat pintu masuk sebelah utara Masjid.


Empat tahun setelah Masjid Raya itu terbakar, pada pertengahan Shafar 1294 H/Maret 1877 M, dengan mengulangi janji jenderal Van Sweiten, maka Gubernur Jenderal Van Lansberge menyatakan akan membangun kembali Masjid Raya Baiturrahman yang telah terbakar itu. Pernyataan ini diumumkan setelah diadakan permusyawaratan dengan kepala-kepala Negeri sekitar Banda Aceh.

Dimana disimpulakan bahwa pengaruh Masjid sangat besar kesannya bagi rakyat Aceh yang 100% beragama Islam. Janji tersebut dilaksanakan oleh Jenderal Mayor Vander selaku Gubernur Militer Aceh pada waktu itu. Dan tepat pada hari Kamis 13 Syawal 1296 H/9 Oktober 1879 M, diletakkan batu pertamanya yang diwakili oleh Tengku Qadhi Malikul Adil. Masjid Raya Baiturrahman ini siap dibangun kembali pada tahun 1299 Hijriyah bersamaan dengan kubahnya hanya sebuah saja.

Pada tahun 1935 M, Masjid Raya Baiturrahman ini diperluas bahagian kanan dan kirinya dengan tambahan dua kubah.Perluasan ini dikerjakan oleh Jawatan Pekerjaan Umum (B.O.W) dengan biaya sebanyak F.35.000,- (Tiga Puluh Lima Ribu Gulden), sebagai pimpinan Proyek Ir.M.Thahir dan selesai dikerjakan pada akhir tahun 1936 Miladiyah.

Usaha perluasan dilanjutkan oleh sebuah pnitia bersama “Panitia Perluasan Masjid Raya Kutaraja”. Dengan keputusan Menteri R.I tanggal 31 Oktober 1975 disetujui pula perluasanya yang kedua dan pelaksanaanya diserahkan pada pemborong N.V ZEIN dari Jakarta. Perluasan ini bertambah dua kubah lagi dan dua buah menara sebelah utara dan selatan.

Dengan perluasan kedua ini Masjid Raya Baiturrahman mempunyai lima kubah dan selesai dekerjakan dalam tahun 1967 Miladiyah.

Dalam rangka menyambut Musabaqah Tilawatil Qur’an Tingkat Nasional ke-XII pada tanggal 7 s/d 14 Juni 1981 di Banda Aceh, Masjid Raya diperindah dengan peralatan, pemasangan klinkers di atas jalan-jalan dalam pekarangan Masjid Raya. Perbaikan dan penambahan tempat wudhu' dari porselin dan pemasangan pintu krawang, lampu chandelier, tulisan kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an dari bahan kuningan, bagian kubah serta intalasi air mancur di dalam kolam halaman depan.


Masjid Raya Baiturrahman adalah Masjid kebanggaan rakyat Aceh, dimana sejak zaman Belanda berfungsi sebagai benteng pertahanan umat Islam Nanggroe. Pada tahun 1991-1993 Masjid Raya Baiturrahman melaksanakan perluasan kembali yang disponsori oleh gubernur Dr.Ibrahim Hasan, yang meliputi halaman depan dan belakang serta masjidnya itu sendiri. Bagian masjid yang diperluas, meliputi bagian lantai masjid tempat shalat, ruang perpustakaan, ruang tamu, ruang perkantoran, aula dan ruang tempat wudhu', dan 6 lokal sekolah. Sedangkan perluasan halaman meliputi, taman dan tempat parkir serta satu buah menara utama dan dua buah minaret.


Sehingga luas ruangan dalam Masjid menjadi 4.760 M2 berlantai marmer buatan Italia, jenis secara dengan ukuran 60 x 120 cm dan dapat menampug 9.000 jama’ah. Dengan perluasan tersebut, Masjid Raya Baiturrahman sekarang memiliki 7 kubah, 4 menara, dan 1 menara induk. Dari masa kemasa Masjid Raya Baiturrahman telah berkembang pesat baik ditinjau dari segi arsitektur, peribadatan maupun kegiatan kemasyarakatan sesuai dengan perkembangan, luas area Masjid Raya Baiturrahman ± 4 Ha, didalamnya terdapat sebuah kolam, menara induk dan bagian halaman lainya ditumbuhi rumput yang ditata dengan rapi dan indah diselingi tanaman/pohon hias.








Masjid Raya Baiturrahman Masjid kebanggaan rakyat Aceh.

FASILITAS

1.  Masjid Raya Baiturrahman memiliki lembaga pendidikan formal, yaitu madrasah Tsanawiyah Darusysyari’ah dan Madrasah Aliyah Darusysyari’ah dengan diasuh oleh 28 guru negeri dan swasta. Madrasah ini telah banyak menghasilkan sarjana, baik perguruan tinggi, seperti IAIN Ar-Raniry, Universitas Syah Kuala, Perguruan Tinggi Swasta yang berada di Banda Aceh maupun diluar Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

2.  Masjid Raya Baiturrahman memiliki lembaga swadaya masyarakat yang bergerak dalam bidang finansial, yaitu Baitul Qiradh Baiturrahman Banda Aceh, dalam upaya membantu masyarakat ekonomi lemah yang dikelola oleh seorang Direktur dengan 5 (lima) orang anggota. Dengan perkembangannya Baitul Qiradh kini memiliki 3 cabang asset 4 M.

3.  Masjid Raya memiliki Media Elektronik yang diberi nama Radio Baiturrahman dimana setiap waktu mengrely kegiatan Masjid, berupa pelaksanaan shalat lima waktu, menyiarkan Halqah Maghrib dan Kuliah Shubuh. Radio Baiturrahman dapat menjangkau sebagian wilayah Aceh terutama Kota Banda Aceh, Aceh Besar, Aceh Barat dan Kabupaten Pidie. Radio Baiturrahman juga menyiarkan berbagai informasi melalui ceramah, dialog, dan diskusi juga menghibur masyarakat dengan nuansa lagu-lagu Islami disamping mengraly siaran Nasional.

4.  Masjid Raya Baiturrahman memiliki media cetak dengan nama “Tabloid Gema Baiturrahman” yang dikeluarkan pada setiap hari jum’at dengan menyajikan khutbah Jum’at dan tulisan yang bernuansa Islami. Media tersebut disebarkan kepada jama’ah sebelum shalat jum’at di Masjid Raya Baiturrahman bahkan sebagian disampaikan ke sejumlah masjid yang berada di kota Banda Aceh, dan Masjid-masjid dalam daerah Nanggroe Aceh Darussalam.

5.  Masjid Raya Baiturrahman Banda Aceh, selain memiliki lembaga pendidikan tingkat dasar dan menengah juga membuka perguruan tinggi “Dayah Manyang” pada pagi hari yang pesertanya terdiri dari orang tua khususnya kaum laki-laki yang diasuh oleh para Ulama pasantren modrn dan alumni madinah. Kegiatan ini dilaksanakan pada setiap hari rabu dan jum’at dari pukul 08.00-11.30 WIB di ruang aula belakang Masjid Raya Baiturrahman.

   Peristiwa sejarah yang terakhir adalah terjadinya bencana tsunami 24 Desember 2004. Ketinggian dan derasnya air tsunami hingga 2 meter yang hampir menggenangi ruangan dalam Masjid Raya, menjadi saksi sejarah bagi kebanyakan orang yang selamat ketika berlindung di Masjid Raya. Setelah air tsunami surut, di dalam Masjid Raya dijadikan tempat meletakkan ribuan jenazah korban tsunami.







Kondisi Masjid Raya Baiturrahman beberapa saat pasca tsunami.

    Waktu gempa dan tsunami (26 Desember 2004) yang menghancurkan sebagian Aceh, Masjid ini selamat tanpa kerusakan yang berarti dan banyak warga Kota yang selamat di sini. Kawasan/lingkungan Masjid ini juga dijadikan kawasan Syariat Islam, jadi sebaiknya kita jaga dan jangan dikotori oleh perbuatan-perbuatan yang melecehkan Masjid serta melanggar Syariat Islam.



No comments: